Mengapa Kacer yang Berpindah Lokasi Berubah Performanya Meski Rawatannya Tidak Berubah? | www.ublsf.com

Mengapa Kacer yang Berpindah Lokasi Berubah Performanya Meski Rawatannya Tidak Berubah?

Mengapa Kacer yang Berpindah Lokasi Berubah Performanya Meski Rawatannya Tidak Berubah?

Mengapa Kacer yang Berpindah Lokasi Berubah Performanya Meski Rawatannya Tidak Berubah? – Jika pada posting sebelumnya sudah pernah kita bahas tentang kacer yang berubah performa ketika pindah tangan, pada posting ini kita akan membicarakan topik yang hampir sama yaitu fenomena  kacer yang Berubah Performanya Meski Rawatannya Tidak Berubah. Mari kita kupas misteri ini secara seksama.

Mengapa Kacer yang Berpindah Lokasi Berubah Performanya?

Dalam kasus ini biasanya burung akan brubah dalam hitungan bulan, bahkan dalam hitungan minggu. Faktor penyebab utama fenomena ini terjadi tetaplah suhu dan cuaca yang berbeda. Biasanya dalam kasus ini penurunan kinerja burung tidak langsung drop, melainkan sedikit demi sedikit. Contoh kasus, saya membeli burung dari jawa dengan setingan JK 5/5, mandi tiap hari, kroto 2 hari sekali, dan jemur 1jam. Lalu ketika burung tersebut saya over ke samarinda Kalimantan Timur yang seperti hampir tidak memiliki pakem musim yang pasti (siang panas lalu tiba-tiba hujan), apakah setting rawatan dari jawa akan berlaku di kalimantan?

Saya yakin, setting rawatan di atas hanya bisa bertahan dalam hitungan bulan saja, atau bahkan cuma minggu jika pakem rawatan tersebut diterapkan di kalimantan. Menurunnya metabolisme burung itu tidak langsung drop, melainkan sedikit demi sdikit. Contoh minggu pertama di kalimantan burung masih kerja dan juara, lihat minggu berikutnya pasti ada penurunan kinerja dan begitu seterusnya sampai bobrok total burung tersebut.
Trus, beitu juga sebaliknya. Jika burung yang berasal dari daerah yang lebih dingin dengan settingan JK 3/3, mandi 2 hari sekali, dan jemur 2jam lalu pindah ke tempat yang suhu cuacanya lebih panas, apakah setting di tempat asalnya itu berlaku di tempat yang baru? Jawabannya jelas tidak. Naiknya suhu cuaca pasti berpengaruh besar terhadap metabolisme burung.
Jadi kesimpulanya, jika burung yang berasal dari daerah panas pindah ke daerah yang lebih dingin, maka EF harus dipangkas dari setting aslinya dan mandi dikurangi 50% dari setting awalnya. Maka otomatis metabolism akan bisa singkron. Begitupula sebaliknya jika kacer yang berasal dari daerah yang lebih dingin pindah ke daerah yang lebih panas, justru JK harus dinaikkan 30% dan durasi mandi ditambh 50% maka kita boleh berharap bahwa kondisi burung tersebut akan singkron.
Maka dari itu saya mencoba selalu menekankan bahwa rawatan itu fleksible. Harus disesuaikan dengan suhu cuaca dan sikon burung tersebut, semisal rawatan pancaroba, rawatan untuk yang berprofesi sebagai karyawan, dll Karena sejatinya penyakit burung kacer itu memang bermacam-macam tapi biasanya penyebabnya hanyalah karena menurunya atau naiknya metabolisme pada burung tersebut. Di sinilah titik dimana kita harus benar-benar paham bahwa settingan kacer itu fleksible.
Mengapa Kacer yang Berpindah Lokasi Berubah Performanya
Maaf saya tidak bermaksud takabur, ini hanya kisah nyata yang saya harap bisa diambil hikmahnya. Saya dalam beberapa kesempatan pernah mengirim burung ke daerah Kalimantan yang menurut cerita beberapa KM jika burung dari tempat lain dikirim ke daerah itu, kemungkinan besar burung tersebut pasti rusak. Tapi alhamdulilah, belum pernah mitos itu terjadi pada saya karena saya tidak menyamakan rawatan burung di sana dengan rawatan awal burung di tempat saya. Lalu, bagaimanakah jika perpindahannya dalam satu kota yang sama? Adakah perubahan yang juga harus kita lakukan?

Perubahan Performa Burung meskipun Pindah Tangan dalam Satu Kota

Perubahan performa burung juga bisa terjadi ketika burung pindah tangan ke pemilik baru padahal masih satu kota. Contoh kasusu, kemarin sempat ada yang telepon saya tentang masalah ini dia tidak merubah dari segi mandi dan penjemuran tapi burungnya berubah performanya 180°. Dalam kasus ini menurut pengamatan saya yang salah adalah dari penempatan si burung. Di pemilik lama, burung selalu ditempatkan di bawah atap asbes yang tentunya akan menimbulkan hawa panas. Sementara ketika sudah di tangan pemilik baru, burung ditempatkan di bawah atap genteng. Ini masalah serius, seharusnya jika kita tidak memunyai atap asbes berarti kita harus melakukan penyesuaian dari segi pemberian extra fooding. Pemberian EF nya harus dirubah, contoh yang tadinya memakai jangkrik 5/5 harus dirubah menjadi 3/3, durasi penjemuran ditambah, dan mandi dikurangi maka akan ketemu seperti perawatan pemilik sebelumnya.

Ada lagi contoh kasus lain. Dari pemilik sebelumnya, burung ditempatkan di ruangan biasa sementara setelah pindah ke pemilik baru burung ditempatkan di ruangan ber-ac. Sobat KM ini adalah tindakan yang sangat fatal akibatnya. Jadi intinya, kita sebagai perawat burung harus benar-benar jeli dan peka jika kita akan men take over burung-burung yang sudah mapan, tidak hanya jumlah EF saja yang di perhatikan. Karena yang namanya seekor unggas sangat sensitive sekali dengan perubahan suhu udara yang ada di sekitarnya. Menurunnya suhu udara akan berpengaruh terhadap metabolisme tubuhnya. Jadi, bukan hanya sotang setting saja yang ada di benak kita. Faktor lingkungan juga harus kita perhatikan.
Di tempat yang cuacanya awalnya panas terik tiba-tiba  hujan, kita harus pandai-pandai menyesuaikan rawatan. Di pemilik lama burung ditempatkan di lingkungan panas, sementara tempat kita lingkungannya dingin, kita juga harus peka melakukan adaptasi rawatannya. Bukan panasnya yang kita pertimbangkan tetapi perubahan dinginnya yang perlu disikapi. Itulah kuncinya, jika ingin membuat kinerja burung tetap maksimal meskipun dikirim ke daerah yang memiliki cuaca sangat berbeda. IBI BK



Home - About Us - Sitemap - Disclaimer - Privacy Policy - Contact Us
Copyright © 2014 www.ublsf.com. Designed By templatoid. Powered By Blogger
Back To Top